Anak Kurang Gizi

Seruu.com - Masyarakat Indonesia membutuhkan edukasi mengenai gizi untuk menghindari terjadinya kegagalan gizi (malnutrisi), kata ahli gizi dr Lia Listiawaty Mkes.

"Malnutrisi itu tidak hanya berarti kekurangan gizi, kelebihan gizi sehingga mengalami obesitas juga dapat disebut malnutrisi," kata dr Lia Listiawaty saat dihubungi, Minggu, terkait dengan akan diselenggarakannya peringatan hari gizi nasional pada 25 Januari 2012.

Dia mengatakan, malnutrisi biasanya dialami anak usia bawah lima tahun (balita) yang disebabkan berbagai hal. Untuk kasus malnutrisi di kota-kota besar umumnya disebabkan oleh kurangnya perhatian orang tua karena sibuk bekerja. Sedangkan pemicu di daerah lebih disebabkan karena faktor ekonomi.

Menurut dia, malnutrisi yang dialami anak balita ini apabila tidak ditanggulangi sejak dini akan menurunkan kualitas sumber daya manusia, sehingga akhirnya akan tertinggal dengan negara-negara lain yang gizinya lebih baik.

Lia mengatakan, edukasi mengenai gizi ini harus segera dilakukan karena masih banyak masyarakat yang belum memahami pemberian gizi yang tepat bagi anak-anak mereka yang sedang dalam usia pertumbuhan.

Dia mengatakan, kehadiran posyandu seharusnya dapat ditingkatkan tidak hanya di desa-desa tetapi juga di kota-kota besar untuk memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai gizi anak-anak mereka.

"Anak-anak di Posyandu akan mendapat asupan gizi yang tepat. Selain itu, sebaiknya secara berkala juga disampaikan konsultasi dari ahli gizi atau dokter kepada masyarakat," ujar dia.

Dia mengatakan, melalui posyandu akan dapat diketahui anak yang mengalami kekurangan gizi sehingga melalui terapi dapat segera dipulihkan tidak sampai mengganggu kemampuan otaknya.

"Sepanjang masa pertumbuhan maka melalui pemberian gizi yang cukup akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak mereka," ujar dia.

Sedangkan mengenai anak-anak yang mengalami obesitas (kegemukan), Lia mengatakan, pengaruhnya akan dirasakan pada usia produktif, berupa ancaman berbagai penyakit degeneratif seperti jantung, gula, dan sebagainya.

"Masih banyak anggapan yang keliru dari orang tua kalau anak mereka gemuk berarti sehat. Padahal belum tentu harus diperhatikan asupan makanan yang memperhatikan gizi yang berimbang," ujar dia.

Bentuk kepedulian terhadap pemberian gizi terhadap anak-anak juga dilaksanakan PT Herbalife Indonesia yang dijadwalkan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/ CSR) yang disebut CASA dalam bentuk kecukupan pemberian nutrisi bagi anak-anak panti asuhan. Herbalife sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penjualan nutrisi dan suplemen makanan asal Amerika Serikat.

Menurut General Manajer Penjualan dan Pemasaran PT Herbalife Indonesia, Andam Dewi, program Casa (rumah dalam bahasa latin) ini berasal dari Herbalife Family Foundation Amerika Serikat yang dilakukan ke negara-negara tempat Herbalife beroperasi.

Penjualan produk Herbalife sendiri saat ini sudah tersebar di 80 negara termasuk Indonesia. Sementara, program CASA baru dilakukan herbalife di 63 negara. Sementara, di Indonesia, program Casa tersebut baru pertama kali dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki gizi anak-anak yatim piatu dan kurang mampu yang tinggal di Panti Asuhan.

"Karena baru pertama kalinya program ini masuk ke Indonesia maka melalui data yang transparan akhirnya kami memilih tempat penampungan anak yatim piatu di Kelapa Gading sebagai sasaran," ujar dia.

Dia berharap, program Casa ini akan menjadi stimulus bagi distributor di Indonesia yang jumlahnya mencapai 60.000 untuk melaksanakan hal serupa. Hal itu sebagai wujud kepedulian Herbalife yang telah beroperasi selama 13 tahun di Indonesia.

Andam Dewi mengatakan, meningkatnya penjualan produk Herbalife dalam tiga tahun terakhir ini juga menunjukkan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi nutrisi yang berimbang bagi kesehatan.

Andam mendukung perlunya edukasi pemberian gizi yang tepat bagi anak-anak karena berdasarkan riset kesehatan dasar 2010 (Kementerian Kesehatan) masih adanya kondisi malnutrisi pada balita.

Disebutkan masih 37,5 persen atau sepertiga lebih anak Indonesia tinggi badannya tidak sesuai umum (pendek), tingkat prevalensi gizi kurang pada balita 17,9 persen atau 3,7 juta balita masih mengalami kekurangan gizi dan gizi buruk, angka inipun sudah turun 31 persen dibanding tahun 1990, kemudian terdapat 14 persen balita mengalami kelebihan gizi.

Riset juga menyebutkan penduduk di atas usia 18 tahun sebanyak 21,7 persen mengalami obesitas, bahkan dalam riset tahun 2010 dibanding 2007 remaja perempuan gemuk meningkat dari 23,8 persen menjadi 26,9 persen. Sedangkan remaja laki-laki gemuk naik dari 13,9 persen menjadi 16,6 persen.

"Bisa disebut dari 10 remaja putri di Indonesia tiga diantaranya mengalami kegemukan," ujar Andam Dewi.

Andam Dewi mengatakan, kondisi malnutrisi disebabkan faktor lingkungan, peranan orang tua, dan asupan nutrisi yang tidak tepat.

Terkait dengan program Casa, Andam Dewi mengatakan, dana yang dialokasikan sebagai tahap awal diperuntukkan bagi 220 anak, apabila nantinya program Casa dinilai berhasil, diharapkan bantuan yang diberikan Herbalife dapat ditingkatkan lagi pada tahun-tahun berikutnya. [ndis]

KOMENTAR SERUU