New York, Seruu.com - Meningkatnya tindak aborsi di dunia menambah risiko pada kesehatan perempuan. Penelitian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menemukan tingkat aborsi global adalah 28 dari 1.000 perempuan pertahun. Persentase aborsi yang dilakukan tanpa bantuan tenaga medis terlatih naik dari 44 persen pada 1995 menjadi 49 persen pada 2008. Jurnal kesehatan Lancet yang mempublikasikan laporan itu mengatakan angka tersebut "sangat meresahkan."

Aborsi tidak aman adalah salah satu penyebab kematian ibu hamil di dunia. Hal itu mengacu pada prosedur aborsi yang dilakukan di luar rumah sakit, klinik atau tanpa pengawasan medis yang memenuhi syarat.

Perempuan lebih rentan mengalami infeksi berbahaya atau pendarahan jika melakukan aborsi di tempat-tempat seperti itu. Di negara-negara berkembang, terutama di negara dengan undang-undang aborsi yang ketat, sebagian besar aborsi dilakukan secara tidak aman, seperti di Afrika dimana 97 persen tindak aborsi dilakukan tanpa bantuan medis terlatih.

Untuk mengumpulkan angka tersebut, sebuah tugas yang sulit di negara-negara dimana aborsi dinyatakan ilegal, para peneliti menggunakan metode jajak pendapat, statistik rumah dan catatan resmi rumah sakit.

Mereka menyimpulkan, meski tingkat aborsi berkurang sejak 1995, penurunan itu kini telah berhenti dan secara keseluruhan, bertambahnya populasi dunia berarti ada 2,2 juta lebih banyak aborsi pada 2008 dibandingkan dengan 2003.

Di negara-negara maju, jumlah kehamilan yang berakhir dengan aborsi turun dari 36% di 1995 menjadi 26 persen di 2008. Negara-negara dengan undang-undang aborsi yang ketat tidak mengalami penurunan dalam jumlah aborsi.

Professor Beverly Winikoff dari Gynuity, sebuah organisasi di New York yang mendorong akses aborsi aman, menulis di Lancet, "Aborsi tidak aman adalah satu dari lima penyebab kematian ibu hamil, yaitu satu dari tujuh atau delapan kematian ibu hamil pada 2008."

"Namun jika aborsi dilakukan dengan teknik medis dan perawatan yang layak, risiko kematian bisa ditekan hingga 14 kali lebih rendah dari kematian saat melahirkan. Data ini adalah konfirmasi dari apa yang telah kita ketahui selama puluhan tahun, bahwa perempuan yang ingin mengakhiri kehamilan yang tidak diinginkan akan mencari peluang aborsi apa pun risikonya, bahkan jika hal itu ilegal atau berisiko pada jiwanya."

Dr Richard Horton, editor Lancet, mengatakan, "Angka-angka terbaru ini sangat meresahkan. Kemajuan yang dibuat pada era 1990-an kini telah menjadi kemunduran. Tindakan mengutuk, memberikan stigma dan mengkriminalkan aborsi adalah strategi yang kejam dan gagal."

Kate Hawkins, dari Program Seksualitas dan Pengembangan di Institute of Development Studies, mengatakan, "Legal atau ilegal, perempuan akan mencari cara untuk melakukan aborsi." [ndis]

KOMENTAR SERUU